ARCHIVE
RECENTS

05 Oct 2018, 11:41 WIB

Diskusi Sindo Weekly Bersama Universitas Binus: Saatnya Milenial Membangun Desa

JAKARTA – Di antara deretan rumah, pekarangan dan persawahan di perdesaan, pengembangan kawasan rural terus menggeliat dilakukan oleh generasi milenial. Dari potensi pertanian, produk olahan dan industri kreatif, beragam produk dihasilkan dan mendatangkan nilai tambah.

Hal itu mengemuka dalam diskusi yang digelar majalah Sindo Weekly di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Kamis (4/10/2018). Diskusi bertajuk Milenal Bicara Desa ini turut dihadiri oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo yang menjadi keynote speaker dan Dosen Univeritas Bina Nusantara Wendy P Tarigan.

Menteri Eko Putro menuturkan, kreativitas dapat mengembangkan desa semakin berkembang. Karena itu dia mendorong generasi milenial, dalam hal ini mahasiswa untuk bisa ikut terlibat dalam membangun desa-desa tertinggal. Terlebih, banyak sekali potensi yang bisa digali dari desa.

“Saya berharap anak-anak muda juga melihat potensi di desa. Memang di desa itu banyak persoalan, tetapi persoalan itu di satu sisi bisa jadi kesempatan juga buat mereka. Selain itu kompetisinya lebih rendah sehingga bisa jadi kesempatan mereka sukses lebih tinggi,” ujarnya.

Selain itu, kaum muda diharapkan ikut memberi kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa tertinggal agar menjadi desa berkembang. Pasalnya, menjadikan desa tertinggal menjadi desa yang berkembang, bahkan mandiri tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah. Namun juga butuh kontribusi pihak lain, termasuk dari generasi muda.

Menurut Wendy P Tarigan, para mahasiswa Universitas Bina Nusantara melakukan eksplorasi nilai-nilai kearifan lokal di desa guna menjawab kebutuhan masyarakat akan pentingnya peran teknologi serta kreativitas dalam pembangunan desa. Mereka tinggal dan berinteraksi dengan warga Desa Pasirmulya di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Selama tinggal di desa itu, mahasiswa melakukan eksplorasi nilai-nilai kearifan lokal dan juga mengenai potensi pengembangan sebegai desa wisata dengan mengandalkan hasil kekayaan alamnya. Salah satunya berupa kebun kopi yang dikemas dan dikembangkan menjadi Desa Wisata Coffeetainment.

“Kebun kopi bukan hanya sebagai pengasil produk unggulan desa, tapi juga jadi tempat wisata. Sehingga memberi nilai tambah bagi desa dan warganya,” katanya.

 

Sumber: www.mncupdate.com