ARCHIVE
RECENTS

25 Jun 2019, 23:13 WIB

Mampu Jawab Tantangan Era Digital, Kinerja Global Mediacom Melesat

JAKARTA, iNews.id - Kinerja PT Global Mediacom Tbk (BMTR) diprediksi kian melompat pesat di era digital. Pasalnya, perseroan memanfaatkan peluang perkembangan teknologi digital dengan sangat baik.

"Saya yakin sekali business model-nya sudah tepat, artinya kita sudah masuk ke ekosistem baru zaman now," kata Direktur Utama Global Mediacom Hary Tanoesoedibjo (HT), saat Rapat Umum pemegang saham (RUPS) BMTR di iNews Tower, Selasa (25/6/2019).

Saat ini, perseroan ditopang oleh dua bisnis utama, yaitu pertama, televisi dan konten, dan kedua, yaitu Pay TV dan broadband. Untuk bisnis di media televisi ada empat free to air (FTA), yaitu RCTI, GTV, MNCTV dan iNews dengan audience share berkisar 40 persen.

Artinya basis pemirsanya lebih dari 100 juta jiwa. Selain itu, pangsa iklan yang dimiliki grup sekitar 43 persen dari seluruh iklan televisi di seluruh Indonesia dan juga dari 17 channel di TV berlangganan.

Pendapatan FTA dan konten meningkat 18 persen secara total ditopang oleh digital revenue, produksi konten yang meningkat pesat, karena banyak produksi untuk pihak ketiga. Selanjutnya, juga dari non time consuming (NTC) advertising, iklan yang masuk di dalam program.

Pada kuartal I 2019, pendapatan dari digital sudah berkontribusi hampir 9 persen dari total advertising revenue. Adapun, produksi konten MNC saat ini adalah yang terbesar di Indonesia, yaitu 23.000 jam per tahun.

Dengan lebih dari 80 persen program yang diproduksi sendiri, hal ini memberikan keleluasaan bagi MNC Group untuk menambah pendapatan melalui NTC.

Sebagai gambaran tahun lalu, kurang lebih 3 persen dari seluruh pendapatan iklan perseroan berasal daripada NTC. Tahun ini, ditargetkan dari NTC akan memberikan kontribusi 4-5 persen dari total pendapatan iklan.

Di bisnis kedua, yaitu Pay TV dan broadband di bawah MNC Vision Network ada Satellite Pay TV, IPTV, high speed internet dan over the top (OTT). Di Pay TV, satelit MNC Vision yang terbesar di Indonesia.

Untuk IPTV dan high speed internet yang menggunakan fiber optic, ada 1,2 juta homepass terpasang. Ketiga, akan ada OTT yang merupakan wujud dari TV anywhere di mana pelanggan MNC Vision atau MNC Play bisa menikmati channel dari mana saja.

"Mudah-mudahan ke depan dua kekuatan dari bisnis Global Mediacom bisa menunjang pertumbuhan lebih cepat lagi," kata HT.

Di era digital ini, ada berbagai inisiatif digital yang dilakukan untuk membuat kinerja perseroan semakin melesat. Pertama, ada digital podcast, di mana pemirsa bisa berinteraksi melalui gadget dengan tayangan di televisi, baik vote, comment dan lain sebagainya.

Kedua, di media sosial. Di YouTube, seluruh tayangan MNC yang di-upload sudah mendapatkan 13,7 miliar views, dengan jumlah subscriber 37,5 juta, dan merupakan yang terbesar di Indonesia.

Tidak itu saja, MNC telah mendapatkan lisensi multi channel network dari YouTube artinya sudah bisa menjadi agen dari content creator. Sebentar lagi, MNC Group juga akan meluncurkan RCTI Plus, yaitu OTT khusus live streaming empat TV MNC Group.

Melalui OTT ini, apabila pemirsa ada yang terlewat tidak menonton tayangan favoritnya, maka tayangan bisa diputar ulang dan ditonton. Selain itu, ada konten original, behind the scene, bloopers dan lain sebagainya.

Dengan basis pemirsa lebih dari 100 juta trafic di OTT ini, hal ini diyakini akan menjadi kontributor baru yang memberikan lompatan pendapatan yang sangat besar untuk MNC Group. "Mulai tahun depan pendapatan dari iklan kita akan meningkat tajam," ucapnya.

Di portal digital, MNC memiliki Okezone.com dan Sindonews.com, yang saat ini masing-masing menduduki rangking 4 dan 5 dari keseluruhan Top Indonesia Search.

Untuk kategori portal berita Okezone sudah berada di nomor dua, sedangkan Sindonews.com nomor 3 dengan kunjungan visitor mencapai 14 juta setiap hari. Selain itu, ada radio yang sedang berkonversi menjadi radio agregator.

Di sisi lain, fasilitas produksi MNC Group yang sudah ada saat ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara, artinya tak perlu lagi ada investasi untuk belanja modal.

 

Sumber : www.okezone.com